MAKASSAR – Suasana kompetitif dan penuh semangat mewarnai cabang Olimpiade Mata Pelajaran Matematika dalam Olympicad VIII Muhammadiyah yang digelar di Balai Sidang Universitas Muhammadiyah Makassar. Ratusan peserta dari berbagai daerah bersaing menunjukkan kemampuan terbaik mereka dalam bidang matematika.
Salah satu juri dan tim penyusun soal, Muchammad Fachri, S.Si, dosen bidang Matematika dari Bogor, menjelaskan bahwa terdapat tiga indikator utama dalam penilaian. Pertama, pemahaman konsep dasar matematika. Kedua, kemampuan berpikir logis dan runtut dalam menyelesaikan soal. Ketiga, kemampuan mengerjakan soal cerita yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
“Matematika bukan sekadar hitung-hitungan, tetapi bagaimana siswa memahami konsep dan mampu menerapkan logika secara tepat,” ujarnya.
Menurutnya, kualitas peserta tahun ini cukup menggembirakan. Pada beberapa jenjang, terdapat peserta yang mampu menjawab hampir seluruh soal dengan benar. Persaingan di posisi atas pun sangat ketat, dengan selisih nilai yang tipis antar peserta.
Penggunaan sistem berbasis aplikasi dalam pengerjaan soal juga menjadi nilai tambah. Sistem ini dinilai lebih transparan dan meminimalkan potensi kecurangan, sehingga hasil yang diperoleh benar-benar mencerminkan kemampuan peserta.
Di antara peserta yang tampil penuh semangat adalah Aris Putri Kiawja, siswi kelas X dari MA Muhammadiyah Gombara Makassar. Ia mengaku telah mencintai matematika sejak kecil dan menjadikan ajang ini sebagai ruang untuk mengasah kemampuan sekaligus membanggakan orang tua.
“Saya memang dari kecil suka matematika. Tapi saya juga belajar bahwa untuk memahami matematika itu butuh proses panjang dan kerja keras,” tuturnya.
Selain Aris, peserta lain yang turut berkompetisi adalah Alif Rizki Aulia, siswa kelas 10.1 dari MAS Darul Arqam Muhammadiyah Gombara Makassar. Ia mengikuti Olimpiade Mapel Matematika dengan semangat kompetitif dan keinginan untuk menambah pengalaman di tingkat nasional.
Keduanya sepakat bahwa nilai kerja keras, konsistensi latihan, dan keberanian mencoba menjadi kunci dalam menghadapi kompetisi. Interaksi dengan peserta dari berbagai daerah juga memberikan pengalaman berharga dan membuka wawasan baru.
Muchammad Fachri, S.Si menutup dengan pesan tegas bagi para peserta yang ingin berprestasi di bidang olimpiade, “Kalau ingin sukses, ada tiga hal: latihan, latihan, dan latihan. Setelah itu harus diuji lewat berbagai kompetisi agar kemampuan terus berkembang.” ujarnya.
Dengan atmosfer yang meriah dan kompetitif di Balsit Unismuh Makassar, Olimpiade Matematika Olympicad VIII tidak hanya menjadi ajang adu kemampuan, tetapi juga ruang pembentukan karakter, ketekunan, dan semangat meraih cita-cita.
Sumber -> Artikel kiriman Kontributor. Februari 2026.


