PERAN PELAJAR DALAM MENGURANGI SAMPAH DEMI MASA DEPAN YANG BERKELANJUTAN

Tulisan opini oleh Vania Prasista Putri (Anggota Bidang ASBO PC IPM Gantiwarno Kabupaten Klaten) OPINI – Pernahkah kalian membayangkan bungkus makanan yang kita buang saat

Redaksi KabarMuh2

PERAN PELAJAR DALAM MENGURANGI SAMPAH UNTUK MASA DEPAN YANG BERKELANJUTAN
PERAN PELAJAR DALAM MENGURANGI SAMPAH UNTUK MASA DEPAN YANG BERKELANJUTAN

Tulisan opini oleh Vania Prasista Putri (Anggota Bidang ASBO PC IPM Gantiwarno Kabupaten Klaten)

OPINI – Pernahkah kalian membayangkan bungkus makanan yang kita buang saat ini masih ada saat anak-anak kita sudah dewasa? Dampak apa yang akan dialami anak-anak kita nantinya atas perbuatan yang kita anggap remeh?

Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyebutkan bahwa Indonesia berada pada urutan kelima sebagai negara penghasil sampah terbanyak di dunia, berdasarkan data tahun 2024. Berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) timbulan sampah nasional tahun 2025 mencapai 24,8 juta ton.

Sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia atau proses alam yang berbentuk padat atau semi-padat, yang sudah tidak memiliki nilai atau tidak diinginkan lagi dan dibuang ke lingkungan. Sampah yang semakin meningkat tiap harinya akan menimbulkan dampak negatif untuk lingkungan dan masa mendatang.

Pelajar sebagai kelompok yang akan melanjutkan kehidupan di masa depan akan menerima dampak dari kerusakan lingkungan akibat permasalahan sampah yang belum sepenuhnya tertangani. Oleh karena itu, pelajar sebagai generasi muda perlu adanya kontribusi dalam mengurangi sampah dan menjadi kelompok perubahan untuk masa depan yang lebih bersih dan sehat.

Saat ini, permasalahan sampah telah menjadi hal yang krusial dengan ditandai adanya timbulan sampah yang tidak terkelola, kapasitas TPA yang telah melampaui kapasitas maksimal, serta pertumbuhan konsumsi produk sekali pakai yang terus meningkat. Sampah yang belum sepenuhnya terkelola dengan baik dapat menyebabkan kerusakan lingkungan dari air, tanah, udara, menimbulkan berbagai penyakit, serta dapat menimbulkan bencana alam seperti longsor dan banjir.

Penyebab dari permasalahan sampah bukan karena satu hal, melainkan dari berbagai hal. Kurangnya kesadaran dalam diri seseorang, yang masih berfokus pada pengelolaan sampah yang hanya cukup dengan membuang sampah pada tempatnya bukan pada mengurangi sumber sampahnya. Padahal, setelah sampah diambil dari tempat sampah masih ada proses lanjutan seperti Tempat Penampungan Sementara (TPS), Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST), dan berakhir di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Walaupun sudah melalui berbagai tahapan pemilahan sampah, sampah tetap saja menumpuk dan belum sepenuhnya terkelola dengan baik. Sehingga permasalahannya tidak hanya selesai di tempat sampah, melainkan dengan mengurangi sumber sampahnya dapat menjadi salah satu solusi.

Berkembang dengan pesatnya zaman sekarang, semakin banyak produk sekali pakai yang muncul. Produk sekali pakai di Indonesia didominasi oleh kemasan dan peralatan plastik. Setiap tahunnya, diperkirakan sekitar 182,7 miliar kantong plastik digunakan secara nasional. Dari sektor ritel modern saja, Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) mencatat 32.000 gerai menghasilkan 9,6 juta kantong plastik setiap harinya. Dengan banyaknya produk sekali pakai akan menimbulkan banyak sampah yang berasal dari produk sekali pakai.

Solusi dari permasalahan sampah dapat teratasi dengan merubah kebiasaan buruk yang merugikan lingkungan menjadi kebiasaan baik yang berdampak baik bagi lingkungan. Sebagai pelajar yang tumbuh dengan ilmu dan teknologi, serta memiliki posisi yang strategis karena lebih mudah menerima informasi dan memiliki kemampuan untuk menyebar pengaruh positif kepada orang lain, dapat memanfaatkan hal tersebut untuk merubah kebiasaan buruk dengan ide yang kreatif.

Dengan memanfaatkan sosial media dan tren, pelajar dapat membuat konten dengan tema “Future POV Challenge”. Saat ini sedang ramai konten yang membuat POV atau A day in my life. Kita memanfaatkan tren itu untuk menjadi pengaruh untuk perubahan kebiasaan mengurangi sampah. Teknisnya, pelajar membuat konten challenge mengurangi sampah dalam 1 hari secara konsisten. Dalam konten tersebut diberi judul “POV : Seharian mengurangi sampah” di videonya melihatkan keseharian atau a day in my life yang mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, seperti memperlihatkan saat sekolah membawa tumbler yang berisi air minum untuk mengurangi pembelian air dalam kemasan, membawa tempat makan sendiri untuk mengurangi sampah bungkus makanan. Dan di akhir video diberi penjelasan dalam sehari bisa mengurangi berapa sampah sekali pakai, contohnya “Hari ini aku berhasil mengurangi 5 sampah sekali pakai”. Challenge tersebut dilakukan secara konsisten untuk melihat progress dalam mengurangi sampah. Di dalam video juga mengajak orang lain untuk ikut dalam challenge tersebut dengan meng-tag temannya. Dengan kita membuat challenge baru “Future POV Challenge” dapat merubah kebiasaan dari satu orang ke orang lain. Solusi tersebut bisa berhasil dilakukan karena pelajar atau generasi sekarang suka dengan adanya tren dibandingkan video edukasi yang monoton dan terkesan menggurui.

Namun, dalam solusi tersebut terdapat tantangan yaitu banyak orang yang tidak percaya diri untuk membuat konten. Pada zaman sekarang setiap kelas di sebuah sekolah pasti mempunyai akun kelas untuk menyimpan kenangan saat masa sekolah. Dengan adanya akun tersebut dapat mengikuti “Future POV Challenge” secara kolektif dengan teman kelasnya dengan konsep yang sama. Dengan itu dapat menjadi pengaruh kelas lainnya untuk mengikuti tren tersebut. Sehingga dapat berpengaruh secara berantai.

Selain itu, bisa juga dilakukan secara mandiri tanpa membuat konten. Jika seseorang tertarik untuk mengikuti tren tersebut, bisa mengurangi penggunaan sampah sekali pakai dan mencatat untuk melihat progress dalam diri sendiri dalam mengurangi sampah.

Sehingga dengan adanya tren “Future POV Challenge” dapat mengubah kebiasaan seseorang dan berdampak baik pada lingkungan. Walaupun tren sangat cepat berganti, namun tren “Future POV Challenge” bukan bertujuan untuk membuat tren baru melainkan video konten yang dapat merubah kebiasaan seseorang dengan suatu challenge. Sehingga walaupun tren terus berganti kebiasaan yang terbentuk dari challenge tersebut akan lebih melekat dalam diri. Hal tersebut terjadi karena otak manusia bersifat fleksibel dan dapat berubah. Ketika seseorang mengulang perilaku baru (kebiasaan baik), neuron di otak membentuk koneksi baru. Semakin konsisten diulang, koneksi ini menjadi lebih kuat, tebal, dan cepat, sehingga kebiasaan tersebut melekat kuat dalam diri.

Pada akhirnya dengan solusi tersebut, perubahan tidak selalu dari langkah yang besar melainkan dari kemauan untuk merubah kebiasaan kecil secara konsisten. Sebagai pelajar tidak perlu menunggu menjadi seseorang yang berpengaruh untuk membawa perubahan. Langkah kecil yang kita ambil hari ini dapat menjadi awal terciptanya lingkungan yang lebih baik untuk masa depan. Oleh karena itu, mari bersama-sama mengubah kebiasaan dengan ikut “Future POV Challenge”. Karena masa depan yang berkelanjutan bukan sesuatu yang diwarisi tetapi yang tercipta melalui tindakan yang kita lakukan mulai hari ini.

Redaksi KabarMuh2

Kuli tinta

Related Post

Leave a Comment