Meneguhkan Sayap Dakwah dan Prestasi: Refleksi Menjelang Muktamar Tapak Suci di Semarang

Opini karya H. Ma’ruf Abidin, M.Si (Ketua Bidang Organisasi Pimwil XI Tapak Suci Lampung) OPINI – Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang akan di

Redaksi KabarMuh2

Meneguhkan Sayap Dakwah dan Prestasi Refleksi Menjelang Muktamar Tapak Suci di Semarang
Meneguhkan Sayap Dakwah dan Prestasi Refleksi Menjelang Muktamar Tapak Suci di Semarang

Opini karya H. Ma’ruf Abidin, M.Si (Ketua Bidang Organisasi Pimwil XI Tapak Suci Lampung)

OPINI – Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang akan di Universitas Muhammadiyah Semarang 6-9 Agustus 2026, bukan sekadar agenda seremonial lima tahunan. Perhelatan ini bukan pula sekadar panggung rutin untuk mengganti atau melanjutkan estafet kepemimpinan organisasi. Di tengah pusaran zaman yang bergerak eksponensial dengan segala disrupsi digital dan pergeseran nilai sosial, Muktamar Semarang harus dibaca sebagai momentum refleksi kritis. Ini adalah waktu yang tepat bagi seluruh elemen perguruan untuk mengajukan pertanyaan mendasar: sejauh mana perguruan yang lahir dari rahim Kampung Kauman, Yogyakarta, pada 31 Juli 1963 ini mampu menjawab tantangan modernitas tanpa harus kehilangan elan vital spiritualnya?

Sejak awal mula didirikan oleh para pendekar pelopor, Tapak Suci membawa misi dekonstruksi yang sangat revolusioner di dalam dunia persilatan Nusantara. Melalui motto legendarisnya yang berbunyi, “Dengan Iman dan Akhlak saya menjadi kuat, tanpa Iman dan Akhlak saya menjadi lemah,” Tapak Suci berhasil melakukan demistifikasi atas ilmu bela diri. Pada masa itu, dunia pencak silat sangat lekat dengan praktik mistisisme negatif, khurafat, takhayul, dan sinkretisme yang mengarah pada kesyirikan. Tapak Suci datang membawa pembaruan (tajdid) dengan mengganti hal-hal irasional tersebut dengan rasionalitas gerakan fisik, metode keilmuan yang ilmiah, serta pondasi tauhid yang murni.

Proses Islamisasi seni bela diri ini merupakan sumbangsih kultural terbesar Tapak Suci bagi kebudayaan Indonesia. Seni bela diri tidak lagi menjadi media untuk mencari kesaktian magis, melainkan sarana untuk mempertinggi derajat ketakwaan dan menjaga kehormatan kemanusiaan.

Romantisasi Sejarah vs Realitas Abad ke-21

Kita tidak boleh terjebak dalam romantisasi sejarah masa lalu. Keberhasilan para pendahulu menaklukkan tantangan zamannya tidak otomatis membuat kita relevan di era hari ini. Sebagai Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah, Tapak Suci saat ini memikul tanggung jawab ganda yang kian berat namun sangat mulia. Tanggung jawab tersebut berdiri di atas dua pilar utama: sebagai lumbung prestasi olahraga di tingkat nasional dan internasional, sekaligus sebagai motor penggerak dakwah kultural bagi generasi muda.

Landasan pergerakan ini sejatinya memiliki akar teologis yang sangat kuat di dalam Al-Qur’an. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Anfal ayat 60: “Dan persiapkanlah dengan segala kemampuan untuk menghadapi mereka dengan kekuatan yang kamu miliki…”

Ayat ini menegaskan bahwa mempersiapkan fisik, mental, dan strategi yang kuat bukanlah hal yang opsional, melainkan sebuah kewajiban kolektif. Konteks “kekuatan” di era kontemporer ini mewujud dalam bentuk tata kelola organisasi yang profesional dan supremasi prestasi di berbagai gelanggang dunia.

Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW dalam sebuah hadis riwayat Imam Muslim; “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada Mukmin yang lemah.”

Kuat di sini tidak hanya diartikan secara harfiah sebagai kekuatan otot dan fisik di atas matras, melainkan juga kekuatan integritas, kapasitas intelektual, dan ketahanan mental dalam menghadapi gelombang peradaban modern.

Mengadopsi Sport Science demi Supremasi Global

Di gelanggang olahraga, reputasi Tapak Suci sebagai salah satu dari 10 Perguruan Historis Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) memang tidak perlu diragukan lagi. Kontribusi para atlet Tapak Suci dalam menyumbang medali emas untuk Sang Saka Merah Putih di ajang internasional. Jejak prestasinya terekam panjang, mulai dari SEA Games, Asian Games, hingga Kejuaraan Dunia. Prestasi ini menjadi bukti sahih keandalan sistem pembinaan yang selama ini berjalan.

Kendati demikian, pasca-Muktamar Semarang, arah kebijakan pembinaan prestasi tidak boleh lagi dikelola secara konvensional atau sekadar mengandalkan bakat alamiah. Tapak Suci wajib melakukan lompatan besar (quantum leap) dengan mengadopsi secara penuh pendekatan sport science (ilmu pengetahuan olahraga). Kita harus mulai mengintegrasikan analisis biomekanika untuk menyempurnakan efisiensi teknik gerak, menerapkan manajemen nutrisi yang presisi bagi atlet, memanfaatkan psikologi olahraga untuk ketahanan mental bertanding, serta memanfaatkan teknologi analisis video digital untuk memetakan kekuatan lawan.

Tanpa adaptasi teknologi sains ini, supremasi prestasi Tapak Suci di tingkat global akan perlahan tergerus oleh negara-negara lain atau perguruan lain yang jauh lebih adaptif terhadap perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Laboratorium Mental Generasi Strawberry

Tantangan yang tidak kalah krusial berada pada fungsi kaderisasi dan dakwah kultural. Hari ini, kita menghadapi generasi muda yang sering kali diberi label sebagai strawberry generation. Istilan ini merujuk pada sebuah generasi yang penuh dengan ide kreatif dan tampak indah di luar, namun rentan hancur dan rapuh saat menghadapi tekanan mental (mental pressure). Di era gempuran algoritma media sosial yang candu, krisis identitas, dan maraknya fenomena kesehatan mental di kalangan remaja, Tapak Suci harus hadir menawarkan solusi konkret.

Latihan fisik yang melelahkan di atas matras tidak boleh sekadar dimaknai sebagai aktivitas mengucurkan keringat atau menghafal jurus. Matras Tapak Suci harus bertransformasi menjadi sebuah laboratorium mental yang inklusif. Di sinilah tempat utama untuk menempa nilai-nilai kedisiplinan yang ketat, kejujuran yang mutlak melalui sportivitas, serta ketahanan psikologis (resilience) saat menghadapi kekalahan.

Ketika seorang siswa diajarkan untuk bangkit kembali setelah dijatuhkan oleh lawan, pada saat itulah ia sedang dilatih untuk tidak mudah menyerah terhadap kerasnya dinamika kehidupan nyata di luar gedung latihan.

Reinterpretasi Dakwah Kultural di Lembaga Pendidikan

Muktamar Semarang harus mampu merumuskan reinterpretasi dakwah kultural yang segar melalui seni pencak silat. Ribuan sekolah, madrasah, pesantren, dan perguruan tinggi Muhammadiyah yang tersebar di seluruh pelosok negeri adalah aset strategis yang luar biasa. Institusi pendidikan ini harus dijadikan episentrum utama dalam persemaian kader-kader yang militan.

Di lembaga pendidikan Muhammadiyah, seni bela diri Tapak Suci bukan lagi sekadar kegiatan ekstrakurikuler pilihan yang bersifat pelengkap. Ia harus diposisikan sebagai media syiar yang strategis untuk mengenalkan watak Islam yang berkemajuan kepada generasi Z dan Alpha. Yaitu wajah Islam yang damai, santun, ramah, namun di saat yang sama tampil kuat, tangguh, penuh percaya diri, dan berwibawa.

Ketika seorang atlet Tapak Suci berhasil berdiri di atas podium juara tertinggi dengan kepala tegak, namun tetap menunduk hormat, menjunjung tinggi sportivitas, dan memperlihatkan akhlak islami yang mulia, di situlah esensi dakwah yang paling benderang dan persuasif sedang terjadi. Itu adalah dakwah bil hal, dakwah melalui aksi nyata yang jauh lebih membekas daripada ribuan patah kata retorika.

Menyatukan Saf di Semarang

Melalui Muktamar XVI di Semarang ini, seluruh pendekar, kader, pimpinan wilayah, hingga pimpinan pusat Tapak Suci dituntut untuk merapatkan barisan dan menyatukan saf perjuangan. Sudah saatnya kita menyampingkan segala bentuk ego sektoral, rivalitas kedaerahan yang tidak produktif, atau friksi politik keorganisasian yang melelahkan. Fokus utama harus dikembalikan pada upaya merumuskan cetak biru (blueprint) organisasi yang modern, transparan, akuntabel, serta adaptif terhadap perkembangan zaman.

Suksesnya Muktamar Semarang tidak boleh hanya diukur dari indikator prosedural, seperti lancarnya suksesi pergantian ketua umum atau selesainya laporan pertanggungjawaban. Ukuran kesuksesan yang sejati adalah seberapa tajam, taktis, dan visioner arah kebijakan baru yang dilahirkan dari forum tertinggi tersebut. Kebijakan baru itulah yang nantinya akan membawa organisasi ini terbang lebih tinggi, melintasi batas-batas negara, dengan mengepakkan dua sayap utamanya secara seimbang: sayap prestasi duniawi yang membanggakan bangsa, dan sayap dakwah ukhrawi yang menyelamatkan generasi.

Selamat bermuktamar di Kota Atlas, Semarang. Di tangan dan di pundak para pendekar sekalian, harapan besar dakwah persyarikatan Muhammadiyah diletakkan. Selamat meneguhkan langkah, demi Iman dan Akhlak, demi kejayaan Islam dan ibu pertiwi.

Redaksi KabarMuh2

Kuli tinta

Related Post

Leave a Comment