MANGGARAI TIMUR — Upaya penanganan korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) mendapat tambahan dukungan tenaga medis. Dokter Melinda Bella, yang sebelumnya harus menangani banyak pasien seorang diri di Puskesmas Dampek, Kabupaten Manggarai Timur, kini mendapat bantuan dari Tim Kesehatan Muhammadiyah.
Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Tim Kesehatan Muhammadiyah menerjunkan satu dokter dan dua perawat ke Puskesmas Dampek. Tim tersebut bergerak setelah menerima informasi mengenai keterbatasan tenaga kesehatan di tengah meningkatnya kebutuhan pelayanan medis pascagempa.
Penugasan tim kesehatan tersebut berada di bawah koordinasi Direktur Klinik Utama Muhammadiyah Ende, dr. Ibrahim Sengaji. Kehadiran mereka menjadi bagian dari respons kemanusiaan Muhammadiyah untuk membantu masyarakat yang terdampak gempa di wilayah Flores.
Salah satu tenaga medis yang diterjunkan, dr. Baim, menjelaskan bahwa respons Muhammadiyah telah dilakukan sejak hari pertama setelah gempa. Bersama Klinik Muhammadiyah Ende, MDMC Ende, dan Klinik Muhammadiyah Maumere, tim bergerak menuju Mbay pada Sabtu sekitar pukul 10.30 WITA.
Sesampainya di Mbay, tim melakukan penyisiran terhadap masyarakat yang berada di wilayah perbukitan setelah menerima informasi mengenai potensi tsunami. Dari Mbay, tim kemudian melanjutkan perjalanan menuju Riung, Kabupaten Ngada, sekaligus mendirikan pos pelayanan dan berkoordinasi dengan Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) serta Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) setempat.
Perjalanan menuju Manggarai Timur juga tidak lepas dari tantangan. Tim mendapati sejumlah wilayah mengalami kerusakan akibat gempa, sementara kondisi akses masih berisiko. Selain tenaga medis, tim turut membawa logistik dan obat-obatan untuk menunjang pelayanan kepada masyarakat terdampak.
Setibanya di Manggarai Timur, tim menemukan sejumlah bangunan mengalami kerusakan dan warga membutuhkan penanganan medis. Tim kemudian memberikan pertolongan kepada masyarakat, termasuk membersihkan luka dan melakukan tindakan medis seperti penjahitan.
Informasi mengenai kondisi pelayanan di Puskesmas Dampek kemudian menjadi perhatian tim. Saat berada di wilayah Pota, tim mendapat kabar bahwa dr. Melinda harus menangani banyak pasien seorang diri.
“Setelah ada berita di grup IDI bahwa dr. Melinda menangani sendiri dengan begitu banyak pasien, keesokan paginya kami bergeser ke Dampek untuk membantu dr. Melinda dengan satu dokter dan dua perawat,” ujar dr. Baim.
Tim Kesehatan Muhammadiyah hingga kini masih memberikan pendampingan di Puskesmas Dampek. Selain membantu pelayanan kesehatan, tim juga terlibat dalam proses evakuasi pasien yang membutuhkan penanganan lebih lanjut.
Dalam proses tersebut, sebanyak tiga pasien dengan kondisi fraktur telah dievakuasi dan dirujuk ke RSUD Borong untuk memperoleh penanganan medis lebih lanjut.
Kehadiran Tim Kesehatan Muhammadiyah di Dampek merupakan bagian dari respons kemanusiaan MDMC bersama jejaring layanan kesehatan Muhammadiyah dalam membantu masyarakat terdampak gempa di Flores.
MDMC bersama jejaring Muhammadiyah akan terus berkoordinasi dengan tenaga kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan, serta berbagai pihak terkait di lapangan. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat terdampak dapat ditangani berdasarkan kondisi dan tingkat prioritas di masing-masing wilayah.


