Panen Raya, Startup Inofarm Binaan UMY Perkuat Komitmen Dukung Ekosistem Kewirausahaan Bidang Agrowisata

BANTUL – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus memperkuat komitmennya sebagai Entrepreneur University melalui pengembangan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu wujud nyatanya adalah

Redaksi KabarMuh2

Panen Raya, Startup Inofarm Binaan UMY Perkuat Komitmen Dukung Ekosistem Kewirausahaan Bidang Agrowisata
Panen Raya, Startup Inofarm Binaan UMY Perkuat Komitmen Dukung Ekosistem Kewirausahaan Bidang Agrowisata

BANTUL – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) terus memperkuat komitmennya sebagai Entrepreneur University melalui pengembangan inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Salah satu wujud nyatanya adalah kegiatan petik melon sekaligus penjajakan kerja sama kewirausahaan bersama Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) DIY di Kebun Inofarm Jogja, Senin (06/07).

Inofarm merupakan startup binaan UMY yang berdiri sejak 2022 dan berfokus pada konsep pertanian terpadu, mengintegrasikan budidaya tanaman, perikanan, peternakan ayam, hingga pengelolaan maggot dalam satu ekosistem berkelanjutan. Firman Prayoga, founder Inofarm, adalah alumni Agribisnis UMY angkatan 2024. Ia mulai mengembangkan budidaya melon hidroponik varietas Swee Hami dengan memanfaatkan teknologi pertanian modern.

Kepala Subdirektorat Inkubasi Bisnis dan Transfer Teknologi UMY, Ir. Sutoyo, S.Pd.T., M.Eng., menegaskan bahwa Inofarm adalah implementasi nyata dari ekosistem studentpreneur yang memadukan pembelajaran akademik dengan praktik kewirausahaan.

“Inofarm adalah wujud nyata bagaimana ilmu yang diperoleh mahasiswa dapat diimplementasikan menjadi usaha yang produktif. Tidak hanya menghasilkan inovasi, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat melalui optimalisasi lahan dan penerapan teknologi pertanian berkelanjutan,” ujarnya.

Sutoyo juga mengingatkan tantangan terbesar yang dihadapi inovasi kampus.

“Kami memiliki banyak inovasi yang potensial. Tantangan berikutnya adalah bagaimana inovasi tersebut tidak berhenti di laboratorium, tetapi dapat dikomersialisasikan dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” katanya.

Kepala DPMPTSP DIY, Ghofar Ismail, mengapresiasi Inofarm sebagai solusi atas menyusutnya lahan pertanian di Yogyakarta.

“Dengan lahan yang relatif sempit, produktivitas tetap dapat ditingkatkan bahkan menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi,” jelasnya.

Ia juga membuka peluang kerja sama internasional bagi Inofarm.

“Kami dapat menjembatani peluang kerja sama dengan mitra di Jepang maupun Tiongkok, mulai dari pelatihan SDM, pertukaran teknologi, hingga menghadirkan tenaga ahli agar pengembangan Inofarm semakin maju,” ungkapnya.

Ke depan, Inofarm akan dikembangkan menjadi kawasan edukasi dan agrowisata sebagai model hilirisasi inovasi kampus yang berkelanjutan bagi masyarakat DIY.^^

Redaksi KabarMuh2

Kuli tinta

Related Post

Leave a Comment